Sekolah yang mengajarkan cara bertanya, bukan cara menjawab

Hampir semua sekolah yang pernah saya kunjungi mencantumkan berpikir kritis dalam pernyataan visinya. Kalimatnya bervariasi, tetapi maksudnya seragam. Sekolah ingin melahirkan lulusan yang mandiri, berani bertanya, dan tidak menelan informasi mentah mentah.

Ketika saya meminta melihat lembar penilaian, gambaran itu sering berubah. Sebagian besar butir penilaian menguji apakah siswa bisa memproduksi jawaban yang sudah ditetapkan sebelumnya. Nyaris tidak ada butir yang memberi nilai pada mutu pertanyaan yang diajukan siswa. Selama penilaian bekerja seperti itu, pernyataan visi hanya berfungsi sebagai hiasan dinding.

Kebebasan berpikir bukan kebebasan tanpa struktur

Ada kesalahpahaman yang perlu dibereskan lebih dulu. Kebebasan berpikir sering dibayangkan sebagai kelas tanpa aturan, tanpa kurikulum, dan tanpa penilaian. Bayangan itu keliru, dan kekeliruannya membuat banyak guru menolak gagasan ini sebelum sempat mencobanya.

Berpikir bebas justru menuntut struktur yang lebih ketat, bukan lebih longgar. Siswa yang diminta membangun argumen harus tahu apa yang membedakan argumen kuat dari opini. Siswa yang diminta menilai satu sumber harus tahu cara memeriksa asal informasi. Semua itu adalah keterampilan yang perlu diajarkan secara eksplisit, dengan urutan yang dipikirkan matang. Kelas yang membiarkan siswa berdebat tanpa membekali mereka alat penalaran bukan sedang membebaskan siapa pun, melainkan sedang menyerahkan panggung kepada yang paling percaya diri.

Yang berubah ketika pertanyaan ikut dinilai

Ada satu eksperimen kecil yang saya sarankan pada beberapa guru, dan hasilnya cukup konsisten. Alokasikan sebagian kecil nilai, cukup sepuluh persen saja, untuk mutu pertanyaan yang diajukan siswa selama satu bab berlangsung. Kriterianya sederhana. Pertanyaan yang jawabannya bisa ditemukan pada paragraf pertama buku teks bernilai rendah. Pertanyaan yang menghubungkan dua bab berbeda bernilai lebih tinggi. Pertanyaan yang menantang asumsi dalam buku teks bernilai paling tinggi.

Perubahan kecil itu mengubah perilaku dalam hitungan minggu. Siswa yang biasanya diam mulai mencatat hal hal yang membingungkan mereka, karena kebingungan berubah status dari aib menjadi bahan baku. Guru pun mendapat informasi yang sebelumnya tidak pernah tersedia, yaitu bagian mana dari materi yang sebenarnya tidak dipahami kelas.

Ketika kebingungan dihukum, siswa belajar menyembunyikannya. Ketika kebingungan dihargai, kebingungan berubah menjadi data yang berguna bagi gurunya.

Ruang aman untuk salah

Syarat pertama agar siswa berani berpikir sendiri adalah keyakinan bahwa salah tidak berakibat fatal. Syarat itu terdengar lunak, padahal sangat teknis. Ia ditentukan oleh hal hal kecil, misalnya bagaimana guru menanggapi jawaban keliru di depan kelas, apakah nilai ulangan dibacakan secara terbuka, dan apakah ada kesempatan memperbaiki pekerjaan setelah mendapat umpan balik.

Sekolah yang membacakan peringkat kelas setiap bulan sedang mengirim pesan bahwa kesalahan bersifat permanen dan publik. Anak yang menangkap pesan itu akan memilih strategi paling aman, yaitu menjawab persis seperti yang dicontohkan. Strategi tersebut rasional bagi si anak, tetapi merugikan bagi tujuan yang katanya ingin dicapai sekolah.

Yang bisa dilakukan cukup sederhana. Beri kesempatan revisi pada sebagian tugas, nilai versi terakhirnya, dan catat kemajuannya. Perubahan ini tidak menurunkan standar. Ia hanya memindahkan penilaian dari satu momen menuju satu proses.

Biaya yang ditanggung guru

Perlu jujur bahwa perubahan ini tidak gratis. Kelas yang penuh pertanyaan lebih sulit dikendalikan, lebih sulit diselesaikan tepat waktu, dan lebih sering keluar dari rencana pembelajaran. Guru yang dinilai berdasarkan ketercapaian materi akan berpikir dua kali sebelum membuka ruang semacam itu.

Di sinilah letak persoalan yang sebenarnya. Kita meminta guru menumbuhkan kebebasan berpikir sambil mengukur kinerja mereka dengan indikator yang menghukum keterlambatan penyelesaian materi. Dua permintaan itu bertabrakan, dan yang kalah selalu yang tidak diukur. Sebelum sistem penilaian kinerja guru ikut berubah, seruan tentang berpikir kritis akan terus berhenti sebagai imbauan moral.

Tiga praktik yang bisa dijalankan minggu depan

  1. Buka setiap bab dengan satu pertanyaan yang gurunya sendiri belum punya jawaban tunggal, lalu catat jawaban siswa di papan tanpa dikoreksi sampai akhir bab
  2. Sediakan satu sesi tiap bulan tempat siswa boleh menantang satu pernyataan dalam buku teks, dengan syarat menyertakan dasar dari sumber lain
  3. Ganti sebagian soal ujian bertipe ingatan dengan soal yang meminta siswa menilai dua pandangan yang bertentangan dan memilih salah satunya disertai alasan

Praktik ketiga biasanya paling ditentang karena penilaiannya dianggap subjektif. Keberatan itu bisa dijawab dengan rubrik. Rubrik yang menilai kejelasan klaim, kecukupan bukti, dan penanganan pandangan lawan sudah cukup untuk membuat penilaian konsisten antarpenilai.

Pelajaran dari ruang seminar

Pengalaman mengajar di jenjang pascasarjana memberi saya pembanding yang berguna. Mahasiswa yang paling kesulitan bukan mereka yang kurang membaca, melainkan mereka yang terbiasa mencari jawaban benar. Ketika dihadapkan pada dua makalah yang menyimpulkan hal berlawanan, respons pertama mereka adalah menanyakan mana yang benar, bukan menanyakan mengapa keduanya berbeda.

Kebiasaan itu tidak terbentuk di kampus. Kebiasaan itu terbentuk selama dua belas tahun sebelumnya, ketika setiap pertanyaan punya satu jawaban dan setiap jawaban punya nilai. Memperbaikinya di jenjang tinggi jauh lebih mahal daripada mencegahnya sejak awal.

Kekeliruan yang perlu dihindari

Ada dua kekeliruan yang sering muncul ketika sekolah mulai serius menggarap hal ini. Yang pertama adalah menyamakan kebebasan berpikir dengan relativisme, seolah semua pendapat sama kuatnya. Justru sebaliknya, tujuan akhirnya adalah kemampuan membedakan mana pendapat yang berdasar dan mana yang tidak.

Yang kedua adalah memindahkan seluruh beban ke satu mata pelajaran tertentu. Berpikir kritis bukan mata pelajaran tambahan. Ia adalah cara mata pelajaran apa pun diajarkan. Sejarah yang diajarkan sebagai daftar tanggal tidak akan menumbuhkan apa pun, sedangkan sejarah yang diajarkan sebagai perdebatan tentang tafsir sumber akan menumbuhkan banyak hal sekaligus.

Bahan bacaan menentukan lebih banyak daripada metode

Satu hal yang sering luput dari pembahasan adalah ketersediaan bahan. Kelas yang ingin melatih penalaran memerlukan lebih dari satu sumber, karena penalaran hanya bisa dilatih ketika ada dua pandangan yang bisa dibandingkan. Sekolah yang hanya memiliki satu buku teks per mata pelajaran sedang menghadapi hambatan yang tidak bisa diselesaikan dengan pelatihan guru.

Untungnya hambatan tersebut lebih murah diatasi sekarang dibandingkan sepuluh tahun lalu. Artikel, laporan lembaga, dan data terbuka tersedia luas. Yang diperlukan adalah kurasi, yaitu kerja memilih bahan yang setara tingkat kesulitannya dan benar benar bertentangan pandangannya. Kerja kurasi ini sebaiknya dilakukan bersama antarguru, bukan dibebankan kepada masing masing.

Pendidikan yang lestari bukan pendidikan yang menghasilkan lulusan dengan nilai tertinggi pada satu periode. Pendidikan yang lestari adalah pendidikan yang menghasilkan orang yang masih bisa belajar dua puluh tahun setelah lulus, ketika seluruh materi yang dihafalnya sudah usang.

Kemampuan itu tidak tumbuh dari banyaknya materi yang diberikan. Ia tumbuh dari kebiasaan bertanya yang dipelihara sejak dini, dan kebiasaan itu hanya bertahan kalau lingkungannya memberi imbalan, bukan hukuman.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like