Catatan dari Hong Kong, kota padat dan biaya dari mengejar peringkat

Saya berada di Hong Kong selama enam hari untuk satu konferensi dan dua pertemuan kampus. Kota ini termasuk yang paling sering saya kunjungi, dan setiap kali datang, ada satu hal yang kesannya makin kuat, yaitu betapa banyak yang bisa dipelajari dari tempat yang keadaannya sangat berbeda dari tempat kita sendiri.

Peringkat sebagai strategi wilayah kecil

Hal pertama yang selalu mencolok adalah keseriusan mengejar posisi dalam pemeringkatan internasional. Bagi wilayah dengan penduduk terbatas dan tanpa sumber daya alam, reputasi akademik adalah aset ekonomi yang nyata. Mahasiswa internasional, dana riset, dan talenta akademik mengalir mengikuti reputasi tersebut.

Dilihat dari sudut itu, strateginya masuk akal dan hasilnya terlihat. Beberapa universitas di sana secara konsisten berada di jajaran atas dunia, dengan fasilitas dan komposisi staf internasional yang mendukungnya.

Persoalannya baru muncul ketika kita menanyakan siapa yang menanggung biayanya.

Biaya yang ditanggung peneliti muda

Percakapan paling berkesan sepanjang kunjungan justru terjadi saat makan malam dengan beberapa dosen muda. Gambaran yang mereka sampaikan cukup seragam, yaitu target publikasi pada daftar jurnal tertentu, tenggat masa percobaan yang ketat, dan konsekuensi yang tegas kalau target tidak tercapai.

Sistem semacam ini menghasilkan produktivitas yang tinggi, dan itu fakta yang tidak perlu dibantah. Namun ia juga membentuk pilihan penelitian. Topik dengan risiko kegagalan tinggi cenderung dihindari, karena kegagalan yang jujur tidak punya tempat dalam perhitungan masa percobaan. Proyek jangka panjang berpindah ke tangan mereka yang sudah aman posisinya.

Saya bertanya kepada salah seorang dari mereka, andai tidak ada tekanan tersebut, apa yang ingin dikerjakannya. Jawabannya datang tanpa jeda, dan topiknya sama sekali berbeda dari yang sedang ia kerjakan. Jawaban secepat itu menunjukkan bahwa pertanyaannya sudah lama ada di kepalanya.

Deretan menara hunian yang membuat jejak per orang menjadi rendah
Deretan menara hunian yang membuat jejak per orang menjadi rendah

Konferensi dan mutu pertanyaannya

Konferensi yang saya hadiri berjalan padat, dengan sesi paralel yang membuat peserta harus memilih. Yang saya perhatikan bukan isi presentasinya, melainkan mutu pertanyaan dari lantai.

Pada beberapa sesi, pertanyaan yang muncul menyasar langsung ke bagian identifikasi dan ke asumsi yang paling rapuh. Pada sesi lain, pertanyaannya berhenti pada permintaan klarifikasi definisi. Perbedaannya bukan pada topik, melainkan pada komposisi peserta.

Pengamatan sederhana ini mengubah cara saya memilih forum. Konferensi yang bermanfaat bukan yang namanya paling besar, melainkan yang pesertanya cukup dekat dengan bidang kita sehingga mampu menyerang bagian yang lemah. Kritik keras di ruang seminar jauh lebih murah daripada penolakan setelah berbulan bulan menunggu.

Kepadatan sebagai keunggulan yang tidak disengaja

Dari sisi keberlanjutan, kota ini menyediakan contoh yang jarang dibahas dengan jujur. Kepadatan hunian yang ekstrem, dipadukan dengan jaringan transportasi umum yang sangat baik, menghasilkan jejak emisi per orang untuk transportasi yang rendah dibandingkan banyak kota lain.

Sebagian besar keunggulan itu bukan hasil kebijakan iklim. Ia hasil dari keterbatasan lahan dan keputusan tata kota yang diambil jauh sebelum isu iklim menjadi pembicaraan. Pelajarannya menarik, yaitu bahwa sebagian capaian keberlanjutan yang paling besar lahir dari kebijakan yang tujuannya lain sama sekali.

Sisi sebaliknya juga perlu disebut. Konsumsi barang, limbah elektronik, dan ketergantungan pada rantai pasok luar membuat gambaran emisi berbasis konsumsi terlihat jauh berbeda dari gambaran emisi wilayah. Memilih salah satu ukuran tanpa menyebut yang lain akan menghasilkan kesimpulan yang menyenangkan tetapi tidak lengkap.

Kota yang terlihat hijau pada ukuran teritorial bisa berubah gambarannya sepenuhnya ketika yang dihitung adalah apa yang dikonsumsi penduduknya.

Ruang kelas yang penuh mahasiswa dari banyak negara

Salah satu sesi mengajak saya masuk ke kelas pascasarjana dengan mahasiswa dari belasan negara. Keragaman itu mengubah dinamika diskusi dengan cara yang tidak selalu nyaman.

Ketika membahas satu kasus tentang pengungkapan perusahaan, tanggapan mahasiswa terbelah bukan berdasarkan kemampuan analisis, melainkan berdasarkan pengalaman di negara asal masing masing. Mahasiswa dari negara dengan penegakan hukum yang kuat menganggap satu praktik sebagai pelanggaran serius. Mahasiswa dari tempat lain menganggapnya lumrah dan menjelaskan alasannya dengan meyakinkan.

Perbedaan semacam itu sulit dihadirkan di kelas yang seluruh pesertanya berasal dari satu negara. Nilainya bukan pada kesepakatan yang dicapai, karena sering kali tidak tercapai, melainkan pada kesadaran bahwa kerangka yang kita anggap universal ternyata punya batas geografis.

Biaya hidup dan konsekuensinya pada rekrutmen

Topik yang selalu muncul dalam percakapan pribadi adalah harga hunian. Angkanya membuat sebagian akademisi muda menghitung ulang rencana jangka panjangnya, bahkan ketika gaji yang ditawarkan tergolong tinggi.

Konsekuensinya terasa pada pola rekrutmen. Universitas berhasil menarik banyak orang untuk masa awal karier, tetapi menahan mereka pada tahap berikutnya jauh lebih sulit, terutama bagi yang mulai berkeluarga. Beberapa kolega menyebut hal ini sebagai persoalan yang tidak bisa diselesaikan oleh kebijakan kampus sendiri, karena akarnya berada di pasar properti kota.

Bagi saya, ini pengingat bahwa daya saing sebuah institusi akademik tidak seluruhnya ditentukan oleh institusi itu sendiri. Sebagian besar ditentukan oleh kota tempat ia berdiri.

Keuangan hijau dan jaraknya dari sektor riil

Salah satu sesi konferensi membahas peran kota ini sebagai pusat penerbitan obligasi hijau dan produk keuangan berkelanjutan. Volumenya besar dan ekosistem pendukungnya matang.

Yang mengganjal bagi saya adalah jarak antara ruang rapat tempat produk itu dirancang dan lokasi proyek yang dibiayai, yang sebagian besar berada di negara lain. Jarak tersebut bukan sekadar geografis. Ia juga jarak informasi, karena mereka yang menilai kelayakan proyek jarang berkesempatan melihat kondisi lapangan secara langsung.

Bagi kita yang berada di sisi penerima dana, jarak ini punya implikasi praktis. Mutu dokumentasi dan kemampuan menyajikan data yang bisa diverifikasi dari jauh menjadi penentu, kadang lebih menentukan daripada mutu proyeknya sendiri. Itu kenyataan yang tidak ideal, tetapi mengabaikannya tidak membuat pendanaan datang lebih mudah.

Ada satu pengamatan terakhir yang layak dicatat. Kota ini punya jalur pendakian dan taman kota yang bisa dicapai dengan angkutan umum dalam waktu singkat dari pusat keuangan. Kombinasi kepadatan tinggi dan ruang terbuka yang mudah dijangkau adalah hasil perencanaan lahan jangka panjang, bukan kebetulan.

Bagi kota kota kita yang sedang tumbuh cepat, contoh ini lebih relevan daripada contoh kota berpenduduk jarang di negara empat musim yang biasa dipakai sebagai rujukan.

Yang saya bawa pulang

  1. Sistem insentif akademik menentukan topik apa yang dikerjakan, jauh lebih kuat daripada seruan tentang kebebasan akademik
  2. Keunggulan keberlanjutan sering lahir dari kebijakan yang tujuan awalnya sama sekali berbeda, sehingga layak dicari di tempat yang tidak diduga
  3. Kemampuan menyajikan bukti yang bisa diperiksa dari jarak jauh adalah keterampilan yang menentukan akses pada pendanaan hijau

Pada penerbangan pulang saya menyadari satu hal. Empat kunjungan terakhir, ke tempat yang sangat berbeda satu sama lain, semuanya berakhir pada kesimpulan yang mirip. Yang menentukan perilaku sebuah sistem bukan nilai yang dinyatakannya, melainkan apa yang diukur dan diberi imbalan di dalamnya.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like