Dalam tiga tahun terakhir saya membaca lebih dari seratus laporan keberlanjutan perusahaan besar di Asia Tenggara. Pola yang muncul justru mengejutkan karena keseragamannya. Hampir semuanya sudah memakai kerangka yang benar, menyebut tiga jalur suhu, dan menggambarkan risiko fisik serta risiko transisi dengan bahasa yang enak dibaca. Namun ketika saya menelusuri ke belakang, ke rencana belanja modal lima tahun dan ke asumsi harga yang dipakai tim keuangan, jejak skenario itu menghilang. Narasi berhenti di lampiran, sementara keputusan tetap dibuat memakai asumsi lama.
Masalahnya bukan pada kerangka. Kerangka yang tersedia hari ini sudah lebih dari cukup, bahkan bisa dibilang berlebih. Masalahnya ada pada jembatan antara narasi dan angka yang benar benar dipakai orang untuk memutuskan sesuatu. Selama jembatan itu tidak dibangun, menambah kerangka baru hanya menambah pekerjaan tanpa menambah kejelasan.
Tiga jembatan yang biasanya putus
Jembatan pertama adalah penerjemahan. Skenario iklim datang dalam bentuk lintasan suhu, harga karbon, dan bauran energi. Tim keuangan bekerja dengan variabel yang sama sekali berbeda, yaitu harga jual, volume produksi, biaya bahan baku, dan tingkat diskonto. Ketika tidak ada orang yang bertugas menerjemahkan lintasan menjadi variabel keuangan, dua dunia itu berjalan paralel tanpa pernah bertemu. Konsultan menulis narasinya, tim keuangan menyusun modelnya, dan keduanya diserahkan ke direksi sebagai dokumen yang terpisah. Direksi kemudian diminta menyimpulkan sesuatu dari dua bahasa yang tidak pernah dipertemukan.
Jembatan kedua adalah horizon waktu. Skenario iklim biasanya bicara dalam rentang sampai tahun 2050. Rencana bisnis perusahaan berhenti di tahun kelima, dan anggaran yang benar benar mengikat hanya berumur satu tahun. Akibatnya risiko yang paling material menurut skenario justru jatuh di luar horizon keputusan siapa pun yang sedang duduk di ruang rapat. Tidak ada yang berbohong dalam proses ini. Struktur waktunya saja yang membuat risiko itu selalu menjadi urusan penerus, dan setiap penerus mewarisi kesimpulan yang sama.
Jembatan ketiga adalah kepemilikan. Di banyak perusahaan, angka skenario iklim tidak dimiliki siapa pun. Direktorat keberlanjutan menganggapnya milik direktorat keuangan karena berbentuk rupiah. Direktorat keuangan menganggapnya milik direktorat keberlanjutan karena berasal dari laporan keberlanjutan. Angka yang tidak dimiliki siapa pun tidak pernah masuk ke dalam keputusan siapa pun, dan pada akhirnya hanya hidup di dalam berkas presentasi.
Dua uji sederhana untuk mengukur keseriusan
Ada satu uji murah yang biasanya saya pakai pada pertemuan pertama. Saya minta dua dokumen sekaligus, yaitu peta jalan dekarbonisasi dan rencana belanja modal lima tahun. Lalu saya tanyakan satu hal saja. Berapa rupiah dari rencana belanja modal itu yang secara eksplisit dialokasikan untuk memenuhi target dalam peta jalan tersebut.
Jika jawabannya berupa angka, kita bisa langsung masuk ke pembahasan yang bermutu tentang asumsi dan sensitivitas. Jika jawabannya berupa penjelasan panjang tentang komitmen perusahaan, kita baru saja menemukan temuan pertama. Peta jalan yang tidak punya pasangan angka di sisi kapital adalah pernyataan niat, bukan rencana. Keduanya boleh ada, tetapi keduanya tidak boleh tertukar.
Uji kedua yang juga murah adalah menanyakan asumsi harga karbon yang dipakai dalam evaluasi kelayakan proyek. Banyak perusahaan mencantumkan harga karbon internal dalam laporan tahunan, tetapi memakai angka nol dalam model kelayakan proyek yang benar benar diajukan ke komite investasi. Selisih antara keduanya adalah ukuran paling jujur tentang seberapa dalam skenario iklim sudah masuk ke dalam organisasi. Saya belum pernah menemukan perusahaan yang selisihnya nol, dan itu wajar. Yang penting adalah apakah selisih tersebut diketahui dan sedang dipersempit, atau justru tidak pernah dihitung sama sekali.
Apa yang berubah ketika jembatannya tersambung
Saya pernah mendampingi satu perusahaan energi yang awalnya datang dengan permintaan sangat spesifik, yaitu menyusun bab risiko iklim agar laporannya lolos telaah. Pada pertemuan ketiga, arah pembicaraan bergeser. Ketika lintasan harga karbon dimasukkan ke dalam model kelayakan salah satu proyek yang sudah disetujui, nilai kininya berubah tanda pada skenario kebijakan ketat. Proyek itu tidak dibatalkan. Jadwalnya digeser, struktur pendanaannya diubah, dan satu klausul harga ditambahkan ke dalam kontrak jangka panjangnya.
Yang menarik bukan hasil tersebut, melainkan bagaimana pembicaraan berubah setelahnya. Sejak saat itu, tim perencanaan mulai meminta angka skenario sebelum menyusun proposal, bukan sesudahnya. Analisis skenario berhenti menjadi kewajiban pelaporan dan mulai menjadi alat perencanaan. Perubahan urutan itu terdengar sepele, tetapi justru di situ letak seluruh perbedaannya. Dokumen yang sama, dengan metodologi yang sama, punya nilai yang sepenuhnya berbeda tergantung kapan ia tiba di meja orang yang memutuskan.
Pihak luar yang mempercepat prosesnya
Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa dorongan internal jarang cukup. Yang biasanya mempercepat adalah tiga pihak dari luar. Yang pertama adalah pemberi pinjaman yang mulai meminta data eksposur sebagai syarat perpanjangan fasilitas. Yang kedua adalah auditor yang menanyakan konsistensi antara asumsi dalam uji penurunan nilai aset dan asumsi dalam narasi transisi. Yang ketiga adalah pelanggan besar yang menuntut data emisi rantai pasok dengan tingkat rincian tertentu.
Ketiganya punya kesamaan, yaitu mengubah pengungkapan dari urusan reputasi menjadi urusan yang berdampak pada arus kas. Selama isu ini masih ditangani sebagai urusan komunikasi, prioritasnya akan selalu kalah dari hal lain yang lebih mendesak.
Pengungkapan yang baik dimulai dari model internal yang memang dipakai, bukan dari templat yang diisi menjelang tenggat penerbitan laporan.
Risiko yang jarang dibicarakan
Ada argumen yang sering saya dengar bahwa pengungkapan yang lebih rinci akan merugikan perusahaan karena membuka informasi kepada pesaing. Dalam pengalaman saya, kekhawatiran itu sering menjadi alasan yang nyaman untuk menunda pekerjaan yang sebenarnya sulit. Pesaing jarang tertarik pada asumsi harga karbon internal. Pemberi pinjaman dan lembaga pemeringkat sangat tertarik.
Ada juga risiko sebaliknya yang jarang masuk ke dalam pembahasan. Perusahaan yang menerbitkan narasi ambisius tanpa dukungan model internal sedang menciptakan eksposur hukum dan reputasi yang baru. Ketika satu pihak menuntut pertanggungjawaban atas klaim transisi, dokumen pertama yang diminta adalah kertas kerja. Perusahaan yang narasinya lahir dari kertas kerja akan aman. Perusahaan yang narasinya lahir dari sesi penulisan menjelang tenggat akan kesulitan menjelaskan asal setiap angka.
Tiga langkah yang bisa dimulai kuartal ini
- Pilih satu unit bisnis, bukan seluruh perusahaan, lalu terjemahkan satu skenario menjadi tiga variabel keuangan yang sudah dipakai unit tersebut
- Masukkan variabel itu ke dalam model kelayakan proyek yang sedang berjalan, lalu catat perubahan nilai kini dan periode pengembaliannya
- Tunjuk satu pemilik angka dengan nama dan jabatan, lalu jadwalkan telaahnya bersamaan dengan siklus anggaran, bukan bersamaan dengan siklus pelaporan
Ketiganya tidak memerlukan sistem baru dan tidak memerlukan anggaran konsultasi yang besar. Yang diperlukan adalah kesediaan melihat hasil yang mungkin tidak menyenangkan, dan kesediaan mencatat hasil itu di tempat yang bisa dilihat orang lain.
Analisis skenario iklim akan berhenti menjadi lampiran pada hari ketika ada satu keputusan investasi yang berubah karenanya. Sebelum hari itu tiba, yang kita punya hanyalah dokumen yang rapi, tersusun dengan baik, dan tidak berkonsekuensi apa apa.